SATUAN ACARA PENYULUHAN
Pokok bahasan : Penyakit Mata Conjungtivitis
Sub pokok bahasan : Pengertian conjungtivitis
Macam-macam conjungtivitis
Cara perawatan penderita conjungtivitis
Sasaran : Tn.P dan keluarga
Hari /tanggal : Minggu ,20 Juni 2010
Pukul /jam : 09.00 s/d selesai
Tempat : Kediaman Tn.P di Kaligono, Kaligesing, Purworejo
Latar belakang
Konjungtivitis merupakan penyakit yang disebabkan oleh bakteri dan virus dan dapat pula disebabkan oleh asap, angin dan alergi. Konjungtiva dan kornea merupakan bagian mata yang mudah berhubungan dengan dunia luar. Sehingga penyakit ini mudah sekali menular.
Kebanyakan masyarakat sudah tidak asing lagi dengan penyakit ini tetapi belum banyak orang yang tahu cara perawatan pasien konjungtivitis yang baik dan benar agar tidak menular ke orang lain. Tn.P menderita conjungtivitis . sedangkan dia sendiri tidak tahu cara perawatan dan cara pencegahan agar penyakitnya tidak menular atau mewabah. Untuk itu Tn.P dan keluarga harus sesegera mungkin diberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit conjungtivitis agar penyakit ini tidak menjadi bertambah banyak.
Tujuan
1. Tujuan instruksional umum
Setelah diberikan penyuluhan ini diharapkan agar klien dan keluarga mengetahui cara perawatan penyakit conjungtivitis.
2. Tujuan instruksional khusus
Setelah diberi penyuluhan ini diharapkan agar Tn.P dan keluarga dapat
Menjelaskan pengertian pengertian penyakit conjngtivitis
Menjelaskan macam-macam conjungtivitis
Menjelaskan cara perawatan penyakit conungtivitis
Pokok materi
( Terlampir 1 )
Metode penyuluhan
Ceramah
Diskusi
Tanya jawab
Media penyuluhan
Poster
Kegiatan pembelajaran
No Kegiatan Penyuluhan Waktu Kegiatan Audience
1. Pembukaan
a. Mengucapakan salam
b. Memperkenalkan diri
c. Menyampaikan tujuan
5 menit
Menjawab salam
Mendengarkan dengan aktif
Mendengarkandengan Memberikan respon
2. Penyuluhan
a. Menjelaskan materi secara sistematis
1) Pengertian conjungtivitis
2) Macam-macam conjungtivitis
3) Perawatan pasien conjungtivitis
b. Membuka season tanya jawab
c. Menjawab pertanyaan
20 menit Mendengarkan dengan baik
Memberikan respon
Memberikan pertanyaan
Mendengarkan dengan respon
3. Penutup
1. Evaluasi
2. Memberi kesimpulan
3. Mengucapkan salam
10 menit
Memberikan respon
Menjawab salam
Evaluasi
Menyampaikan kesimpulan dan saran
MATERI
CONJUNGTIVITIS
PENGERTIAN CONJUNGTIVITIS
Konjungtivitis (mata merah) adalah inflamasi pada konjungtiva oleh virus, bakter, clamydia, alergi, trauma/ sengatan matahari (Long B C, 1996).
Suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, clamida, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia.
MACAM-MACAM CONJUNGTIVITIS
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan penyebabnya.
Konjungtivitis akut
Merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Disebabkan oleh gonococcus virus, clamidia, alergi,toksik atau moluskum kontagiosum.
Manifestasi yang muncul adalah hiperemi pada kongjungtiva, lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata dipagi hari, pseudoptosis akibat kelopak mata membengkak, mata seperti ada benda asing.
Konjungtivitis bakterial akut
Konjungtivitis bakterial akut merupakan bentuk konjungtivitis murni dan biasanya disebabkan oleh staphilococcus, streptococuss pnemonie, gonococcus, haemofiluss influenza, dan pseudomonas
Konjungtivitis blenore
Blenore neonaturum merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Penyebabnya adalah gonococ, clamidia dan stapilococcus
Konjungtivitis gonore
Radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen. Pada neonatus infeksi ini terjadi pada saat berada dijalan lahir. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin pada kontak dengan penderita uretritis atau gonore
Manifestasi klinis yang muncul pada bayi baru lahir adanya sekret kuning kental, pada orang dewasa terdapat perasan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda – tanda infeksi umum.
Konjungtiva difteri
Radang konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri difteri memberikan gambaran khusus berupa terbentuknya membran pada konjungtiva
Konjungtivitis angular
Peradangan konjungtiva yang terutama didapatkan didaerah kantus interpalpebra disertai ekskoriasi kulit disekitar daerah peradangan, kongjungtivitis ini disebabkan oleh basil moraxella axenfeld.
Konjungtivitis mukopurulen
Kongjungtivitis ini disebabkan oleh staphylococcus, pneumococus, haemophylus aegepty. Gejala yang muncul adalah terdapatnya hiperemia konjungtiva dengan sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata lengket, pasien merasa seperti kelilipan, adanya gambaran pelangi ( halo).
Blefarokonjungtivitis
Radang kelopak dan konjungtiva ini disebabkan oleh staphilococcus dengan keluhan utama gatal pada mata disertai terbentuknya krusta pada tepi kelopak
Konjungtivitis viral akut
Biasanya disebabkan oleh adenovirus atau suatu infeksi herpes simpleks. Infeksi ini biasanya terjadi bersama – sama dengan infeksi saluran pernafasan atas. Infeksi virus bisa sembuh dengan sendirinya setelah 3 minggu.
¨ Keratokonjungtivitis epidemik
Radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3,7,8 dan 19. konjuntivitis ini bisa timbul sebagai suatu epidemi. Penularan bisa melalui kolam renang selain dari pada wabah. Gejala klinis berupa demam dengan mata seperti kelilipan, mata berair berat
¨ Demam faringokonjungtiva
Kongjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 2,4 dan 7 terutama mengenai remaja, yang disebarkan melalui sekret atau kolam renang.
¨ Konjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpetik biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang disertai ginggivostomatitis, disebabkan oleh virus herpes simpleks.
¨ Kongjungtivitis new castle
Konjungtivitis new castle merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas, yang disebabkan oileh virus new castle. Gejala awal tibul perasaan adanya benda asing, silau dan berai pada mata, kelopak mata membengkak
Konjungtivitis jamur
Infeksi jamur jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur yang terjadi tidak memperlihatkan gejala. Jamur yang dapat memberikan infeksi pada konjungtivitis jamur adalah candida albicans dan actinomyces.
Konjungtivitis alergik
Konjungtivitis alergik merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap obat atau bahan toksik
Konjungtivitis kronis
¨ Trakoma
Trakoma merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh chlamidia trachomatis, pasien akan mengalami gejala gatal pada mata, berair dan fotofobia
PERAWATAN PENDERITA CONJUNGTIVITIS
numpang nonggol ya bunda...
Kamis, 08 Juli 2010
Asuhan Keperawatan Cinjungtivitis
BAB I
TINJAUAN TEORI
PENGERTIAN
Konjungtivitis (mata merah) adalah inflamasi pada konjungtiva oleh virus, bakter, clamydia, alergi, trauma/ sengatan matahari (Long B C, 1996).
Suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, clamida, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia.
PATOFISIOLOGI.
Konjungtiva berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikro organisme sangat besar. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film, pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig A, Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis.
PEMBAGIAN / KLASIFIKASI MENURUT GAMBARAN KLINIK.
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan penyebabnya.
Konjungtivitis akut
Merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Disebabkan oleh gonococcus virus, clamidia, alergi,toksik atau moluskum kontagiosum.
Manifestasi yang muncul adalah hiperemi pada kongjungtiva, lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata dipagi hari, pseudoptosis akibat kelopak mata membengkak, mata seperti ada benda asing.
Konjungtivitis bakterial akut
Konjungtivitis bakterial akut merupakan bentuk konjungtivitis murni dan biasanya disebabkan oleh staphilococcus, streptococuss pnemonie, gonococcus, haemofiluss influenza, dan pseudomonas
Konjungtivitis blenore
Blenore neonaturum merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Penyebabnya adalah gonococ, clamidia dan stapilococcus
Konjungtivitis gonore
Radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen. Pada neonatus infeksi ini terjadi pada saat berada dijalan lahir. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin pada kontak dengan penderita uretritis atau gonore
Manifestasi klinis yang muncul pada bayi baru lahir adanya sekret kuning kental, pada orang dewasa terdapat perasan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda – tanda infeksi umum.
Konjungtiva difteri
Radang konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri difteri memberikan gambaran khusus berupa terbentuknya membran pada konjungtiva
Konjungtivitis angular
Peradangan konjungtiva yang terutama didapatkan didaerah kantus interpalpebra disertai ekskoriasi kulit disekitar daerah peradangan, kongjungtivitis ini disebabkan oleh basil moraxella axenfeld.
Konjungtivitis mukopurulen
Kongjungtivitis ini disebabkan oleh staphylococcus, pneumococus, haemophylus aegepty. Gejala yang muncul adalah terdapatnya hiperemia konjungtiva dengan sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata lengket, pasien merasa seperti kelilipan, adanya gambaran pelangi ( halo).
Blefarokonjungtivitis
Radang kelopak dan konjungtiva ini disebabkan oleh staphilococcus dengan keluhan utama gatal pada mata disertai terbentuknya krusta pada tepi kelopak
Konjungtivitis viral akut
Biasanya disebabkan oleh adenovirus atau suatu infeksi herpes simpleks. Infeksi ini biasanya terjadi bersama – sama dengan infeksi saluran pernafasan atas. Infeksi virus bisa sembuh dengan sendirinya setelah 3 minggu.
¨ Keratokonjungtivitis epidemik
Radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3,7,8 dan 19. konjuntivitis ini bisa timbul sebagai suatu epidemi. Penularan bisa melalui kolam renang selain dari pada wabah. Gejala klinis berupa demam dengan mata seperti kelilipan, mata berair berat
¨ Demam faringokonjungtiva
Kongjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 2,4 dan 7 terutama mengenai remaja, yang disebarkan melalui sekret atau kolam renang.
¨ Konjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpetik biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang disertai ginggivostomatitis, disebabkan oleh virus herpes simpleks.
¨ Kongjungtivitis new castle
Konjungtivitis new castle merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas, yang disebabkan oileh virus new castle. Gejala awal tibul perasaan adanya benda asing, silau dan berai pada mata, kelopak mata membengkak
Konjungtivitis jamur
Infeksi jamur jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur yang terjadi tidak memperlihatkan gejala. Jamur yang dapat memberikan infeksi pada konjungtivitis jamur adalah candida albicans dan actinomyces.
Konjungtivitis alergik
Konjungtivitis alergik merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap obat atau bahan toksik
Konjungtivitis kronis
¨ Trakoma
Trakoma merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh chlamidia trachomatis, pasien akan mengalami gejala gatal pada mata, berair dan fotofobia
PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.
DIAGNOSIS.
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksasan klinik di dapat adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.
PENGOBATAN.
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %).
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KONJUNGTIVITIS
BIODATA.
Tanggal wawancara, tanggal MRS, No. RMK. Nama, umur, jenis kelamin, suku / bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinana, alamat, penanggung jawab.
RIWAYAT KESEHATAN .
1. Riwayat Kesehatan Sekarang.
a. Keluhan Utama
Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata), gatal, panas dan kemerahan disekitar mata, epipora mata dan sekret, banyak keluar terutama pada konjungtiva, purulen / Gonoblenorroe.
b. Sifat Keluhan
Keluhan terus menerus; hal yang dapat memperberat keluhan, nyeri daerah meradang menjalar ke daerah mana, waktu keluhan timbul pada siang malam, tidur tentu keluhan timbul.
c. Keluhan Yang Menyertai :
Apakah pandangan menjadi kabur terutama pada kasus Gonoblenorroe.
2. Riwayat Kesehatan Yang Lalu.
Klien pernah menderita penyakit yang sama, trauma mata, alergi obat, riwayat operasi mata.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular (konjungtivitis).
PEMERIKSAAN FISIK.
Data Fokus :
Objektif : VOS dan VOD kurang dari 6/6.
Mata merah, edema konjungtiva, epipora, sekret banyak keluar terutama pada konjungtivitis purulen (Gonoblenorroe).
Subjektif : Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata) gatal, panas.
DIAGNOSA KEPERAWATAN.
4. Perubahan kenyamanan (nyeri) berhubungan dengan peradangan
konjungtiva, ditandai dengan :
Klien mengatakan ketidaknyamanan (nyeri) yang dirasakan.
Raut muka /wajah klien terlihat kesakitan (ekspresi nyeri).
Kriteria hasil:
Nyeri berkurang atau terkontrol.
Intervensi :
Kaji tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
Ajarkan kepada klien metode distraksi selama nyeri, seperti nafas dalam dan teratur.
Berikan kompres hangat pada mata yang nyeri.
Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic.
Rasionalisasi :
Dengan penjelasan maka klien diharapkan akan mengerti.
Berguna dalam intervensi selanjutnya.
Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
Menghilangkan nyeri, karena memblokir syaraf penghantar nyeri.
Evaluasi :
Mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
Mengalami dan mendemonstrasikan periode tidur yang tidak terganggu.
Menunjukkan perasaan rileks.
5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya, ditandai dengan :
Klien mengatakan tentang kecemasannya.
Klien terlihat cemas dan gelisah.
Kriteria hasil :
Klien mengatakan pemahaman tentang proses penyakitnya dan tenang.
Intervensi :
Kaji tingkat ansietas / kecemasan.
Beri penjelasan tentang proses penyakitnya.
Beri dukungan moril berupa do’a untuk klien.
Rasionalisasi :
Bermanfaat dalam penentuan intervensi.
Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya
Memberikan perasaan tenang kepada klien.
Evaluasi :
Mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas.
Mendemonstrasikan pemahamaan proses penyakit.
6. Resiko terjadi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses peradangan.
Kriteria hasil :
Penyebaran infeksi tidak terjadi.
Intervensi :
Bersihkan kelopak mata dari dalam ke arah luar (k/p lakukan irigasi).
Berikan antibiotika sesuai dosis dan umur.
Pertahankan tindakan septik dan aseptik.
Rasionalisasi :
Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih.
Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi.
Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
Evaluasi :
Tidak terdapat tanda-tanda dini dari penyebaran penyakit.
7. Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya perubahan pada kelopak mata (bengkak / edema).
Intervensi :
Kaji tingkat penerimaan klien.
Ajak klien mendiskusikan keadaan.
Catat jika ada tingkah laku yang menyimpang.
Jelaskan perubahan yang terjadi.
Berikan kesempatan klien untuk menentukan keputusan tindakan yang dilakukan.
Evaluasi :
Mendemonstrasikan respon adaptif perubahan konsep diri.
Mengekspresikan kesadaran tentang perubahan dan perkembangan ke arah penerimaan.
8. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Kriteria hasil :
Cedera tidak terjadi.
Intervensi :
Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke tubuhnya.
Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kecelakaan.
Awasi / temani pasien saat melakukan aktivitas.
Rasionalisasi :
Menurunkan resiko jatuh (cedera).
Mencegah cedera, meningkatkan kemandirian.
Meminimalkan resiko cedera, memberikan perasaan aman bagi pasien.
Mengontrol kegiatan pasien dan menurunkan bahaya keamanan.
Evaluasi :
Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan melindungi diri dari cedera.
Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit: EGC, Jakarta.
Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab / UPF Ilmu Penyakit Mata. RSU Sutomo. 1994. Surabaya
Wijana, Nana. 1990. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan V. Jakarta.
BAB II
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN
Hari : Sabtu
Tanggal : 19 Juni 2010
Tempat : Puskesmas Kaligesing
Jam : 09.00 WIB
Metode : Anamnese, Observasi, Pemeriksaan Fisik, Studi Dokumentasi
Sumber : Pasien, Keluarga Pasien, Tim Kesehatan dan Status Pasien
Oleh : Siti halimah
Identitas pasien
Nama : Tn. P
Umur : 65 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo
Pekerjaan : Petani
Status : Menikah
Diagmosa : Conjungtivitis
Tgl. Masuk : 19 Juni 2010
Penanggung jawab
Nama : Ny. M
Umur : 35 tahun
Alamat : Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo
Hubungan dengan pasien : Anak
Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama
Pasien mengatakan matanya nyeri
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke puskesmas untuk berobat karena sejak dua hari yang lalu mata sebelah kanan nyeri (ngeres), seperti ada pasir di dalam mata, berair, memerah, panas, keluar sekret dan silau bila terkena cahaya. Sedangkan mata kiri mulai agak memerah.
TTV: Tekanan darah 130/80 mmHg, suhu 360C, nadi 80 x/menit, RR 20x/menit.
P : nyeri bertambah saat digunakan untuk membaca, nyeri berkurang saat istirahat tidur
Q : nyeri (ngeres) seperti ada pasir dimata
R : nyeri menyebar ke seluruh bagian mata
S : skala nyeri 5
T : nyeri hilang timbul
Riwayat Dahulu
Pasien mengatakan belum pernah mondok di RS karena suatu penyakit. Klien pernah menderita penyakit yang sama, belum pernah mengalami trauma mata, tidak punya alergi obat, riwayat operasi mata belum pernah.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan didalam keluarga tidak ada yang menderita conjungtivitis. Sedangkan tetangganya ada yang terkena konjungtivitis.
Genogram
: Perempuan
: laki-laki
: pasien
: tinggal serumah
: keturunan
: menikah
: meninggal
Pola Fungsional
Kebutuhan Bernafas dengan Normal
Saat dikaji pasien tidak mengalami kesulitan bernafas, RR normal 20x/menit
Kebutuhan Nutrisi
Keluarga dan klien makan 3 x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk dan kadang kala buah-buahan.
Kebutuhan Eliminasi
Pasien BAB 1 x sehari, konsistensi lunak, BAK 7-10 kali sehari
Kebutuhan Gerak Dan Kesetimbangan Tubuh
Pasien dapat melakukan aktivitas perawatan diri.
Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Pasien mengatakan bisa tidur 5-6 jam tiap malam.
Kebutuhan Berpakaian
Dalam berganti pakaian pasien bisa melakukan sendiri
Kebutuhan Mempertahankan Suhu Tubuh dan Temperature
Pasien tidak mengalami kenaikan suhu tubuh: 360C (normal), pasien bisa mengenakan pakaian, bisa menggunakan selimut sendiri saat tidur.
Kebutuhan Personal Hygiene
Pasien mandi dikamar mandi, mandi dengan air hangat 2 x sehari, gosok gigi 2x sehari saat mandi.
Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Pasien merasa kurang nyaman karena kedua matanya nyeri (ngeres), seperti ada pasir didalam mata, silau bila terkena cahaya.
Kebutuhan Komunikasi dengan Orang Lain
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik, baik berkomunikasi dengan keluarga maupun dengan perawat.
Kebutuhan Spiritual
Pasien taat melaksanakan sholat fardhu 5 waktu. Kadang-kadang sholat berjamaah di Masjid.
Kebutuhan Bekerja
Pasien sudah tidak bekerja karena sudah tua.
Kebutuhan Rekreasi
Sebelum sakit pasien tidak pernah berekreasi, hanya kadang kala berlibur/ berkunjung ke rumah anak dan cucunya
Kebutuhan Belajar
Pasien bertanya kepada perawat apakah penyakit yang dideritanya, apakah penyakitnya bisa disembuhkan.
Keadaan umum
Suhu : 360C
Nadi : 80 x/menit
TD : 130/80 mmHg
RR : 20 x/menit
BB : 55 Kg
TB : 165 cm
Pemeriksaan fisik
KU : baik
Kesadaran : composmentis
Kepala : simetris tegak lurus dengan garis tengah tubuh, tidak ada luka, kulit kepala bersih, rambut beruban dan bentuk lurus.
Mata
Kanan : sclera tidak ikterik, konjungtiva hiperemis, pupil isokor, reflek cahaya (+), penglihatan jelas, nyeri tekan (+), visus 6/6, keluar secret, dan berair
Kiri : sclera tidak ikterik, konjungtiva hiperemis, pupil isokor, reflek cahaya (+), penglihatan jelas, nyeri tekan (-), visus 6/6, secret (-), dan berair (-)
Mulut : bibir tidak kering, tidak sianosis, reflek menelan baik, tonsil tidak membesar, sebagian gigi sudah tanggal
Telinga : fungsi pendengaran baik, tidak ada serumen, tidak ada pembesaran massa
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan JVP
Dada
Inspeksi : bentuk dada normochest, simetris, ictus cordis tidak tampak, gerakan dada simetris, tidak ada ketertingalan gerak, frekuensi pernafasan 20 x /mnt,
Palpasi : tidak terasa massa, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : jantung dan paru-paru berbatas tegas.
Auskultasi : suara nafas bersih, vesikuler, tidak ada suara tambahan seperti ronchi maupun wheezing, suara paru-paru sonor, suara jantung S1 dan S2 murni.
Abdomen
Inspeksi : bentuk datar simetris, tidak ada pembengkakan atau acites. Tidak ditemukan adanya kelainan seperti benjolan atau pembesaran pada perut, tidak ada hiperpigmentasi
Auskultasi : frekuensi suara peristaltic usus 4 x /menit
Perkusi : tidak ada penumpukan cairan atau udara, suara tympani
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan atau massa pada abdomen, hepar tidak teraba
Ekstremitas :
Anggota gerak atas : lengkap, tidak terdapat luka, dapat digerakkan
Anggota gerak bawah: lengkap, tidak terdapat luka, dapat digerakkan.
Pemeriksaan penunjang
Visus
VOS : 6/6
VOD : 6/6
Therapi
Parenteral
Amoxisilin 3 x 500mg
Deksametason 3 x 0,5mg
Chlorpeniramin Maleat 3 x 4mg
Tetes mata Clorampenichol 3 x 2 tetes.
ANALISA DATA
No Hari/Tgl/Jam Data Masalah Etiologi
1 Sabtu /09.00/ 19 Juni 2010 DS : Pasien mengatakan mata sebelah kanan nyeri (ngeres), seperti ada pasir di dalam mata, berair, memerah, panas, keluar sekret, dan silau bila terkena cahaya, nyeri bertambah saat digunakan untuk membaca, nyeri berkurang saat istirahat nyeri seperti ada pasir dimata, nyeri menyebar ke seluruh bagian mata, skala nyeri 5, nyeri hilang timbul
DO : S : 360C, TD 130 / 80 mmHg, N : 80 x/mnt, RR : 20x/mnt, konjungtiva mata kanan hiperemis, keluar secret.VOS dan VOD 6/6
Nyeri
Proses peradangan
2 Sabtu /09.00/19 Juni 2010 DS : Pasien mengatakan mata kirinya mulai memerah.
DO : S : 360C, TD 130 / 80 mmHg, N : 80 x/mnt, RR : 20x/mnt, konjungtiva mata kanan hiperemis, konjugtiva mata kiri agak memerah, sclera tidak ikterik. Resiko infeksi (penyebaran) Kontak secret dengan mata sehat
RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses peradangan
2. Resiko tinggi infeksi (penyebaran) berhubungan dengan kontak secret dengan mata sehat
INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses peradangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 20 menit masalah teratasi dengan criteria hasil:
-1 Nyeri berkurang/ terkontrol
-2 Pasen merasa nyaman
1. Kaji nyeri
2. Kaji tanda-tanda vital
3. Anjurkan klien untuk mengompres mata yang sakit dengan air hangat
4. Anjurkan klien untuk tidak menggosok-gosok mata yang sakit terutama dengan tangan
5. Anjurkan klien untuk menggunakan kacamata pelindung jika bepergian
6. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
7. Kolaborasi dengan dokter pemberian therapy oral 1. Berguna dalam intervensi selanjutnya
2. Dengan penjelasan maka klien diharapkan akan mengerti.
3. Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
4. Menghilangkan nyeri, karena memblokir syaraf penghantar nyeri.
2 Resiko tinggi infeksi (penyebaran) berhubungan dengan kontak secret dengan mata sehat Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 20 menit diharapkan masalah teratasi dengan criteria hasil:
-3 Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (rubor, tumor, kalor, dolor, fungsio lesi)
-4 Suhu 360C-370C 1. Kaji tanda-tanda infeksi
2. Anjurkan klien istirahat untuk mengurangi gerakan mata
3. Anjurkan klien untuk makan makanan seimbang untuk mempercepat penyembuhan.
4. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati mata
5. Gunakan tehnik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan
6. Tekankan pentingnya untuk tidak menyentuh / menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat.
7. Anjurkan untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan. 1. Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih.
2. Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi.
3. Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
EVALUASI
No dx Tgl /jam Implementasi Evaluasi
19 Juni 2010/ 09.30 1. Mengkaji nyeri dengan tehnik PQRST
2. Mengkaji tanda-tanda vital, TD, N, S, RR
3. Menganjurkan klien untuk mengompres mata yang sakit dengan air hangat
4. Menganjurkan klien untuk tidak menggosok-gosok mata yang sakit terutama dengan tangan
5. Menganjurkan klien untuk menggunakan kacamata pelindung jika bepergian
6. Memberikan Amoxisilin 500mg, deksametason 0,5mg, Chlorpeniramin Maleat 4mg, Tetes mata Clorampenichol 0,5% 2 tetes.
7. Menyarankan untuk control bila belum membaik.
S : pasien mengatakan bersedia untuk mengompres matanya dengan air hangat, tidak menggosok-gosok mata dengan tangan dan memakai kaca mata saat bepergian
O : pasien nampak mengerti dan bisa mengulang kembali apa yang disarankan, skala nyeri 4
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan dengan pemberian pendidikan kesehatan
19 Juni 2010/ 09.30 1. Mengkaji tanda-tanda infeksi
2. Menganjurkan klien istirahat untuk mengurangi gerakan mata
3. Menganjurkan klien untuk banyak makan buah dan sayur untuk mempercepat proses penyembuhan
4. Menyarankan untuk mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati mata
5. Menganjurkan untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan
6. Memberikan informasi pentingnya untuk tidak menyentuh / menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat.
8. Menyarankan untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan. S : pasien mengatakan bersedia untuk banyak istirahat, banyak makan buah dan sayur, cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh mata, dan menggunakan handuk yang terpisah,
O : mata kiri mulai agak memerah
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan dengan pemberian pendidikan kesehatan
TINJAUAN TEORI
PENGERTIAN
Konjungtivitis (mata merah) adalah inflamasi pada konjungtiva oleh virus, bakter, clamydia, alergi, trauma/ sengatan matahari (Long B C, 1996).
Suatu peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, clamida, alergi atau iritasi dengan bahan-bahan kimia.
PATOFISIOLOGI.
Konjungtiva berhubungan dengan dunia luar kemungkinan konjungtiva terinfeksi dengan mikro organisme sangat besar. Pertahanan konjungtiva terutama oleh karena adanya tear film, pada permukaan konjungtiva yang berfungsi melarutkan kotoran dan bahan-bahan yang toksik kemudian mengalirkan melalui saluran lakrimalis ke meatus nasi inferior. Tear film mengandung beta lysine, lysozyne, Ig A, Ig G yang berfungsi menghambat pertumbuhan kuman. Apabila ada kuman pathogen yang dapat menembus pertahanan tersebut sehingga terjadi infeksi konjungtiva yang disebut konjungtivitis.
PEMBAGIAN / KLASIFIKASI MENURUT GAMBARAN KLINIK.
Klasifikasi konjungtivitis berdasarkan penyebabnya.
Konjungtivitis akut
Merupakan radang konjungtiva atau radang selaput lendir yang menutupi belakang kelopak dan bola mata. Disebabkan oleh gonococcus virus, clamidia, alergi,toksik atau moluskum kontagiosum.
Manifestasi yang muncul adalah hiperemi pada kongjungtiva, lakrimasi, eksudat dengan sekret yang lebih nyata dipagi hari, pseudoptosis akibat kelopak mata membengkak, mata seperti ada benda asing.
Konjungtivitis bakterial akut
Konjungtivitis bakterial akut merupakan bentuk konjungtivitis murni dan biasanya disebabkan oleh staphilococcus, streptococuss pnemonie, gonococcus, haemofiluss influenza, dan pseudomonas
Konjungtivitis blenore
Blenore neonaturum merupakan konjungtivitis pada bayi yang baru lahir. Penyebabnya adalah gonococ, clamidia dan stapilococcus
Konjungtivitis gonore
Radang konjungtiva akut yang disertai dengan sekret purulen. Pada neonatus infeksi ini terjadi pada saat berada dijalan lahir. Pada orang dewasa penyakit ini didapatkan dari penularan penyakit kelamin pada kontak dengan penderita uretritis atau gonore
Manifestasi klinis yang muncul pada bayi baru lahir adanya sekret kuning kental, pada orang dewasa terdapat perasan sakit pada mata yang dapat disertai dengan tanda – tanda infeksi umum.
Konjungtiva difteri
Radang konjungtiva yang disebabkan oleh bakteri difteri memberikan gambaran khusus berupa terbentuknya membran pada konjungtiva
Konjungtivitis angular
Peradangan konjungtiva yang terutama didapatkan didaerah kantus interpalpebra disertai ekskoriasi kulit disekitar daerah peradangan, kongjungtivitis ini disebabkan oleh basil moraxella axenfeld.
Konjungtivitis mukopurulen
Kongjungtivitis ini disebabkan oleh staphylococcus, pneumococus, haemophylus aegepty. Gejala yang muncul adalah terdapatnya hiperemia konjungtiva dengan sekret berlendir yang mengakibatkan kedua kelopak mata lengket, pasien merasa seperti kelilipan, adanya gambaran pelangi ( halo).
Blefarokonjungtivitis
Radang kelopak dan konjungtiva ini disebabkan oleh staphilococcus dengan keluhan utama gatal pada mata disertai terbentuknya krusta pada tepi kelopak
Konjungtivitis viral akut
Biasanya disebabkan oleh adenovirus atau suatu infeksi herpes simpleks. Infeksi ini biasanya terjadi bersama – sama dengan infeksi saluran pernafasan atas. Infeksi virus bisa sembuh dengan sendirinya setelah 3 minggu.
¨ Keratokonjungtivitis epidemik
Radang yang berjalan akut, disebabkan oleh adenovirus tipe 3,7,8 dan 19. konjuntivitis ini bisa timbul sebagai suatu epidemi. Penularan bisa melalui kolam renang selain dari pada wabah. Gejala klinis berupa demam dengan mata seperti kelilipan, mata berair berat
¨ Demam faringokonjungtiva
Kongjungtivitis demam faringokonjungtiva disebabkan infeksi virus. Kelainan ini akan memberikan gejala demam, faringitis, sekret berair dan sedikit, yang mengenai satu atau kedua mata. Biasanya disebabkan adenovirus tipe 2,4 dan 7 terutama mengenai remaja, yang disebarkan melalui sekret atau kolam renang.
¨ Konjungtivitis herpetik
Konjungtivitis herpetik biasanya ditemukan pada anak dibawah usia 2 tahun yang disertai ginggivostomatitis, disebabkan oleh virus herpes simpleks.
¨ Kongjungtivitis new castle
Konjungtivitis new castle merupakan bentuk konjungtivitis yang ditemukan pada peternak unggas, yang disebabkan oileh virus new castle. Gejala awal tibul perasaan adanya benda asing, silau dan berai pada mata, kelopak mata membengkak
Konjungtivitis jamur
Infeksi jamur jarang terjadi, sedangkan 50% infeksi jamur yang terjadi tidak memperlihatkan gejala. Jamur yang dapat memberikan infeksi pada konjungtivitis jamur adalah candida albicans dan actinomyces.
Konjungtivitis alergik
Konjungtivitis alergik merupakan bentuk radang konjungtiva akibat reaksi alergi terhadap noninfeksi biasanya disebabkan oleh reaksi terhadap obat atau bahan toksik
Konjungtivitis kronis
¨ Trakoma
Trakoma merupakan konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh chlamidia trachomatis, pasien akan mengalami gejala gatal pada mata, berair dan fotofobia
PEMERIKSAAN LABORATORIUM.
Pemeriksaan secara langsung dari kerokan atau getah mata setelah bahan tersebut dibuat sediaan yang dicat dengan pengecatan gram atau giemsa dapat dijumpai sel-sel radang polimorfonuklear. Pada konjungtivitis yang disebabkan alergi pada pengecatan dengan giemsa akan didapatkan sel-sel eosinofil.
DIAGNOSIS.
Ditegakkan berdasarkan pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium. Pada pemeriksasan klinik di dapat adanya hiperemia konjungtiva, sekret atau getah mata dan edema konjungtiva.
PENGOBATAN.
Pengobatan spesifik tergantung dari identifikasi penyebab. Konjungtivitis karena bakteri dapat diobati dengan sulfonamide (sulfacetamide 15 %) atau antibiotika (Gentamycine 0,3 %; chlorampenicol 0,5 %). Konjungtivitis karena jamur sangat jarang sedangkan konjungtivitis karena virus pengobatan terutama ditujukan untuk mencegah terjadinya infeksi sekunder, konjungtivitis karena alergi di obati dengan antihistamin (antazidine 0,5 %, rapazoline 0,05 %) atau kortikosteroid (misalnya dexametazone 0,1 %).
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA KLIEN DENGAN KONJUNGTIVITIS
BIODATA.
Tanggal wawancara, tanggal MRS, No. RMK. Nama, umur, jenis kelamin, suku / bangsa, agama, pendidikan, pekerjaan, status perkawinana, alamat, penanggung jawab.
RIWAYAT KESEHATAN .
1. Riwayat Kesehatan Sekarang.
a. Keluhan Utama
Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata), gatal, panas dan kemerahan disekitar mata, epipora mata dan sekret, banyak keluar terutama pada konjungtiva, purulen / Gonoblenorroe.
b. Sifat Keluhan
Keluhan terus menerus; hal yang dapat memperberat keluhan, nyeri daerah meradang menjalar ke daerah mana, waktu keluhan timbul pada siang malam, tidur tentu keluhan timbul.
c. Keluhan Yang Menyertai :
Apakah pandangan menjadi kabur terutama pada kasus Gonoblenorroe.
2. Riwayat Kesehatan Yang Lalu.
Klien pernah menderita penyakit yang sama, trauma mata, alergi obat, riwayat operasi mata.
3. Riwayat Kesehatan Keluarga.
Dalam keluarga terdapat penderita penyakit menular (konjungtivitis).
PEMERIKSAAN FISIK.
Data Fokus :
Objektif : VOS dan VOD kurang dari 6/6.
Mata merah, edema konjungtiva, epipora, sekret banyak keluar terutama pada konjungtivitis purulen (Gonoblenorroe).
Subjektif : Nyeri, rasa ngeres (seperti ada pasir dalam mata) gatal, panas.
DIAGNOSA KEPERAWATAN.
4. Perubahan kenyamanan (nyeri) berhubungan dengan peradangan
konjungtiva, ditandai dengan :
Klien mengatakan ketidaknyamanan (nyeri) yang dirasakan.
Raut muka /wajah klien terlihat kesakitan (ekspresi nyeri).
Kriteria hasil:
Nyeri berkurang atau terkontrol.
Intervensi :
Kaji tingkat nyeri yang dialami oleh klien.
Ajarkan kepada klien metode distraksi selama nyeri, seperti nafas dalam dan teratur.
Berikan kompres hangat pada mata yang nyeri.
Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesic.
Rasionalisasi :
Dengan penjelasan maka klien diharapkan akan mengerti.
Berguna dalam intervensi selanjutnya.
Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
Menghilangkan nyeri, karena memblokir syaraf penghantar nyeri.
Evaluasi :
Mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri.
Mengalami dan mendemonstrasikan periode tidur yang tidak terganggu.
Menunjukkan perasaan rileks.
5. Ansietas berhubungan dengan kurangnya pengetahuan tentang proses penyakitnya, ditandai dengan :
Klien mengatakan tentang kecemasannya.
Klien terlihat cemas dan gelisah.
Kriteria hasil :
Klien mengatakan pemahaman tentang proses penyakitnya dan tenang.
Intervensi :
Kaji tingkat ansietas / kecemasan.
Beri penjelasan tentang proses penyakitnya.
Beri dukungan moril berupa do’a untuk klien.
Rasionalisasi :
Bermanfaat dalam penentuan intervensi.
Meningkatkan pemahaman klien tentang proses penyakitnya
Memberikan perasaan tenang kepada klien.
Evaluasi :
Mendemonstrasikan penilaian penanganan adaptif untuk mengurangi ansietas.
Mendemonstrasikan pemahamaan proses penyakit.
6. Resiko terjadi penyebaran infeksi berhubungan dengan proses peradangan.
Kriteria hasil :
Penyebaran infeksi tidak terjadi.
Intervensi :
Bersihkan kelopak mata dari dalam ke arah luar (k/p lakukan irigasi).
Berikan antibiotika sesuai dosis dan umur.
Pertahankan tindakan septik dan aseptik.
Rasionalisasi :
Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih.
Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi.
Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
Evaluasi :
Tidak terdapat tanda-tanda dini dari penyebaran penyakit.
7. Gangguan konsep diri (body image menurun) berhubungan dengan adanya perubahan pada kelopak mata (bengkak / edema).
Intervensi :
Kaji tingkat penerimaan klien.
Ajak klien mendiskusikan keadaan.
Catat jika ada tingkah laku yang menyimpang.
Jelaskan perubahan yang terjadi.
Berikan kesempatan klien untuk menentukan keputusan tindakan yang dilakukan.
Evaluasi :
Mendemonstrasikan respon adaptif perubahan konsep diri.
Mengekspresikan kesadaran tentang perubahan dan perkembangan ke arah penerimaan.
8. Resiko tinggi cedera berhubungan dengan keterbatasan penglihatan.
Kriteria hasil :
Cedera tidak terjadi.
Intervensi :
Batasi aktivitas seperti menggerakkan kepala tiba-tiba, menggaruk mata, membungkuk.
Orientasikan pasien terhadap lingkungan, dekatkan alat yang dibutuhkan pasien ke tubuhnya.
Atur lingkungan sekitar pasien, jauhkan benda-benda yang dapat menimbulkan kecelakaan.
Awasi / temani pasien saat melakukan aktivitas.
Rasionalisasi :
Menurunkan resiko jatuh (cedera).
Mencegah cedera, meningkatkan kemandirian.
Meminimalkan resiko cedera, memberikan perasaan aman bagi pasien.
Mengontrol kegiatan pasien dan menurunkan bahaya keamanan.
Evaluasi :
Menyatakan pemahaman faktor yang terlibat dalam kemungkinan cedera.
Menunjukkan perubahan prilaku, pola hidup untuk menurunkan faktor resiko dan melindungi diri dari cedera.
Mengubah lingkungan sesuai indikasi untuk meningkatkan keamanan.
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Juall. 2000. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Edisi 8. Penerbit: EGC, Jakarta.
Pedoman Diagnosis dan Terapi, Lab / UPF Ilmu Penyakit Mata. RSU Sutomo. 1994. Surabaya
Wijana, Nana. 1990. Ilmu Penyakit Mata. Cetakan V. Jakarta.
BAB II
TINJAUAN KASUS
PENGKAJIAN
Hari : Sabtu
Tanggal : 19 Juni 2010
Tempat : Puskesmas Kaligesing
Jam : 09.00 WIB
Metode : Anamnese, Observasi, Pemeriksaan Fisik, Studi Dokumentasi
Sumber : Pasien, Keluarga Pasien, Tim Kesehatan dan Status Pasien
Oleh : Siti halimah
Identitas pasien
Nama : Tn. P
Umur : 65 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo
Pekerjaan : Petani
Status : Menikah
Diagmosa : Conjungtivitis
Tgl. Masuk : 19 Juni 2010
Penanggung jawab
Nama : Ny. M
Umur : 35 tahun
Alamat : Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo
Hubungan dengan pasien : Anak
Riwayat Kesehatan
Keluhan Utama
Pasien mengatakan matanya nyeri
Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke puskesmas untuk berobat karena sejak dua hari yang lalu mata sebelah kanan nyeri (ngeres), seperti ada pasir di dalam mata, berair, memerah, panas, keluar sekret dan silau bila terkena cahaya. Sedangkan mata kiri mulai agak memerah.
TTV: Tekanan darah 130/80 mmHg, suhu 360C, nadi 80 x/menit, RR 20x/menit.
P : nyeri bertambah saat digunakan untuk membaca, nyeri berkurang saat istirahat tidur
Q : nyeri (ngeres) seperti ada pasir dimata
R : nyeri menyebar ke seluruh bagian mata
S : skala nyeri 5
T : nyeri hilang timbul
Riwayat Dahulu
Pasien mengatakan belum pernah mondok di RS karena suatu penyakit. Klien pernah menderita penyakit yang sama, belum pernah mengalami trauma mata, tidak punya alergi obat, riwayat operasi mata belum pernah.
Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan didalam keluarga tidak ada yang menderita conjungtivitis. Sedangkan tetangganya ada yang terkena konjungtivitis.
Genogram
: Perempuan
: laki-laki
: pasien
: tinggal serumah
: keturunan
: menikah
: meninggal
Pola Fungsional
Kebutuhan Bernafas dengan Normal
Saat dikaji pasien tidak mengalami kesulitan bernafas, RR normal 20x/menit
Kebutuhan Nutrisi
Keluarga dan klien makan 3 x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk dan kadang kala buah-buahan.
Kebutuhan Eliminasi
Pasien BAB 1 x sehari, konsistensi lunak, BAK 7-10 kali sehari
Kebutuhan Gerak Dan Kesetimbangan Tubuh
Pasien dapat melakukan aktivitas perawatan diri.
Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Pasien mengatakan bisa tidur 5-6 jam tiap malam.
Kebutuhan Berpakaian
Dalam berganti pakaian pasien bisa melakukan sendiri
Kebutuhan Mempertahankan Suhu Tubuh dan Temperature
Pasien tidak mengalami kenaikan suhu tubuh: 360C (normal), pasien bisa mengenakan pakaian, bisa menggunakan selimut sendiri saat tidur.
Kebutuhan Personal Hygiene
Pasien mandi dikamar mandi, mandi dengan air hangat 2 x sehari, gosok gigi 2x sehari saat mandi.
Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Pasien merasa kurang nyaman karena kedua matanya nyeri (ngeres), seperti ada pasir didalam mata, silau bila terkena cahaya.
Kebutuhan Komunikasi dengan Orang Lain
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik, baik berkomunikasi dengan keluarga maupun dengan perawat.
Kebutuhan Spiritual
Pasien taat melaksanakan sholat fardhu 5 waktu. Kadang-kadang sholat berjamaah di Masjid.
Kebutuhan Bekerja
Pasien sudah tidak bekerja karena sudah tua.
Kebutuhan Rekreasi
Sebelum sakit pasien tidak pernah berekreasi, hanya kadang kala berlibur/ berkunjung ke rumah anak dan cucunya
Kebutuhan Belajar
Pasien bertanya kepada perawat apakah penyakit yang dideritanya, apakah penyakitnya bisa disembuhkan.
Keadaan umum
Suhu : 360C
Nadi : 80 x/menit
TD : 130/80 mmHg
RR : 20 x/menit
BB : 55 Kg
TB : 165 cm
Pemeriksaan fisik
KU : baik
Kesadaran : composmentis
Kepala : simetris tegak lurus dengan garis tengah tubuh, tidak ada luka, kulit kepala bersih, rambut beruban dan bentuk lurus.
Mata
Kanan : sclera tidak ikterik, konjungtiva hiperemis, pupil isokor, reflek cahaya (+), penglihatan jelas, nyeri tekan (+), visus 6/6, keluar secret, dan berair
Kiri : sclera tidak ikterik, konjungtiva hiperemis, pupil isokor, reflek cahaya (+), penglihatan jelas, nyeri tekan (-), visus 6/6, secret (-), dan berair (-)
Mulut : bibir tidak kering, tidak sianosis, reflek menelan baik, tonsil tidak membesar, sebagian gigi sudah tanggal
Telinga : fungsi pendengaran baik, tidak ada serumen, tidak ada pembesaran massa
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan JVP
Dada
Inspeksi : bentuk dada normochest, simetris, ictus cordis tidak tampak, gerakan dada simetris, tidak ada ketertingalan gerak, frekuensi pernafasan 20 x /mnt,
Palpasi : tidak terasa massa, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : jantung dan paru-paru berbatas tegas.
Auskultasi : suara nafas bersih, vesikuler, tidak ada suara tambahan seperti ronchi maupun wheezing, suara paru-paru sonor, suara jantung S1 dan S2 murni.
Abdomen
Inspeksi : bentuk datar simetris, tidak ada pembengkakan atau acites. Tidak ditemukan adanya kelainan seperti benjolan atau pembesaran pada perut, tidak ada hiperpigmentasi
Auskultasi : frekuensi suara peristaltic usus 4 x /menit
Perkusi : tidak ada penumpukan cairan atau udara, suara tympani
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan atau massa pada abdomen, hepar tidak teraba
Ekstremitas :
Anggota gerak atas : lengkap, tidak terdapat luka, dapat digerakkan
Anggota gerak bawah: lengkap, tidak terdapat luka, dapat digerakkan.
Pemeriksaan penunjang
Visus
VOS : 6/6
VOD : 6/6
Therapi
Parenteral
Amoxisilin 3 x 500mg
Deksametason 3 x 0,5mg
Chlorpeniramin Maleat 3 x 4mg
Tetes mata Clorampenichol 3 x 2 tetes.
ANALISA DATA
No Hari/Tgl/Jam Data Masalah Etiologi
1 Sabtu /09.00/ 19 Juni 2010 DS : Pasien mengatakan mata sebelah kanan nyeri (ngeres), seperti ada pasir di dalam mata, berair, memerah, panas, keluar sekret, dan silau bila terkena cahaya, nyeri bertambah saat digunakan untuk membaca, nyeri berkurang saat istirahat nyeri seperti ada pasir dimata, nyeri menyebar ke seluruh bagian mata, skala nyeri 5, nyeri hilang timbul
DO : S : 360C, TD 130 / 80 mmHg, N : 80 x/mnt, RR : 20x/mnt, konjungtiva mata kanan hiperemis, keluar secret.VOS dan VOD 6/6
Nyeri
Proses peradangan
2 Sabtu /09.00/19 Juni 2010 DS : Pasien mengatakan mata kirinya mulai memerah.
DO : S : 360C, TD 130 / 80 mmHg, N : 80 x/mnt, RR : 20x/mnt, konjungtiva mata kanan hiperemis, konjugtiva mata kiri agak memerah, sclera tidak ikterik. Resiko infeksi (penyebaran) Kontak secret dengan mata sehat
RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses peradangan
2. Resiko tinggi infeksi (penyebaran) berhubungan dengan kontak secret dengan mata sehat
INTERVENSI KEPERAWATAN
No Diagnosa Tujuan Intervensi Rasional
1 Gangguan rasa nyaman nyeri berhubungan dengan proses peradangan Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 20 menit masalah teratasi dengan criteria hasil:
-1 Nyeri berkurang/ terkontrol
-2 Pasen merasa nyaman
1. Kaji nyeri
2. Kaji tanda-tanda vital
3. Anjurkan klien untuk mengompres mata yang sakit dengan air hangat
4. Anjurkan klien untuk tidak menggosok-gosok mata yang sakit terutama dengan tangan
5. Anjurkan klien untuk menggunakan kacamata pelindung jika bepergian
6. Ciptakan lingkungan tidur yang nyaman, aman dan tenang.
7. Kolaborasi dengan dokter pemberian therapy oral 1. Berguna dalam intervensi selanjutnya
2. Dengan penjelasan maka klien diharapkan akan mengerti.
3. Merupakan suatu cara pemenuhan rasa nyaman kepada klien dengan mengurangi stressor yang berupa kebisingan.
4. Menghilangkan nyeri, karena memblokir syaraf penghantar nyeri.
2 Resiko tinggi infeksi (penyebaran) berhubungan dengan kontak secret dengan mata sehat Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 20 menit diharapkan masalah teratasi dengan criteria hasil:
-3 Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (rubor, tumor, kalor, dolor, fungsio lesi)
-4 Suhu 360C-370C 1. Kaji tanda-tanda infeksi
2. Anjurkan klien istirahat untuk mengurangi gerakan mata
3. Anjurkan klien untuk makan makanan seimbang untuk mempercepat penyembuhan.
4. Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati mata
5. Gunakan tehnik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan
6. Tekankan pentingnya untuk tidak menyentuh / menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat.
7. Anjurkan untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan. 1. Dengan membersihkan mata dan irigasi mata, maka mata menjadi bersih.
2. Pemberian antibiotik diharapkan penyebaran infeksi tidak terjadi.
3. Diharapkan tidak terjadi penularan baik dari pasien ke perawat atau perawat ke pasien.
EVALUASI
No dx Tgl /jam Implementasi Evaluasi
19 Juni 2010/ 09.30 1. Mengkaji nyeri dengan tehnik PQRST
2. Mengkaji tanda-tanda vital, TD, N, S, RR
3. Menganjurkan klien untuk mengompres mata yang sakit dengan air hangat
4. Menganjurkan klien untuk tidak menggosok-gosok mata yang sakit terutama dengan tangan
5. Menganjurkan klien untuk menggunakan kacamata pelindung jika bepergian
6. Memberikan Amoxisilin 500mg, deksametason 0,5mg, Chlorpeniramin Maleat 4mg, Tetes mata Clorampenichol 0,5% 2 tetes.
7. Menyarankan untuk control bila belum membaik.
S : pasien mengatakan bersedia untuk mengompres matanya dengan air hangat, tidak menggosok-gosok mata dengan tangan dan memakai kaca mata saat bepergian
O : pasien nampak mengerti dan bisa mengulang kembali apa yang disarankan, skala nyeri 4
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan dengan pemberian pendidikan kesehatan
19 Juni 2010/ 09.30 1. Mengkaji tanda-tanda infeksi
2. Menganjurkan klien istirahat untuk mengurangi gerakan mata
3. Menganjurkan klien untuk banyak makan buah dan sayur untuk mempercepat proses penyembuhan
4. Menyarankan untuk mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati mata
5. Menganjurkan untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan bola kapas untuk tiap usapan
6. Memberikan informasi pentingnya untuk tidak menyentuh / menggaruk mata yang sakit kemudian yang sehat.
8. Menyarankan untuk memisahkan handuk, lap atau sapu tangan. S : pasien mengatakan bersedia untuk banyak istirahat, banyak makan buah dan sayur, cuci tangan sebelum dan sesudah menyentuh mata, dan menggunakan handuk yang terpisah,
O : mata kiri mulai agak memerah
A : masalah belum teratasi
P : intervensi dilanjutkan dengan pemberian pendidikan kesehatan
Senin, 15 Maret 2010
Apakah Rokok Itu ???
Asap rokok mengandung banyak zat-zat berbahaya, kurang lebih ada 4000 elemen 200 diantaranya berbahaya bagi kesehatan. Zat berbahaya yang utama antara lain Tar, Nikotin dan karbonmonoksida
1. Tar
Mengandungi sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanser (karsinogen). Bahan seperti benzopyrene yaitu sejenis policyclic aromatic hydrocarbon (PAH) telah lama disahkan sebagai agen yang memulakan proses kejadian kanser.
2. Nikotin
Nikotin bukan merupakan komponen karsinogenik. Hasil pembusukan panas dari nikotin seperti dibensakridin, dibensokan basol dan nitrosamine-lah yang bersifat karsinogenik. Nikotin merupakan salah satu jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah, nikotin membuat pemakainya kecanduan. Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah membuktikan bahwa zat-zat kimia yang dikandung asap rokok dapat mempengaruhi orang-orang tidak merokok di sekitarnya. Perokok pasif dapat meningkatkan risiko penyakit kanker paru-paru dan jantung koroner. Lebih dari itu menghisap asap rokok orang lain dapat memperburuk kondisi pengidap penyakit : Angina, Asma dan Alergi.
3. Karbon monoksida
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak memiliki bau. Unsure ini dihasilkan oleh pmbakaran yang tidak sempurna dari unsure zat arang. Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3-6%, gas ini dapat dihisap oleh siapa saja. Perokok aktif akan menghisap 1/3 bagian saja yaitu arus yang tengah (midstream) sedangkan arus pingir (side-stream) akan tetap berada diluar. anSesudah itu perokok tidak akan menelan semua asap tetapi ia menghembuskan lagi keluar.
Gas CO mempunyai kemampuan mengikat Hb yang terdapat dalam sel darah merah lebih kuat dibanding oksigen sehingga setiap ada asap rokok disamping kadar oksigen yang telah berkurang, ditambah el darah merah akan semakin kekurangan O2, oleh karena yang diangkut adalah CO bukan oksigen, sehingga sel kekurangan oksigen.
4. Zat-zat beracun lainnya adalah
• Amoniak (bahan pembersih lanai)
Merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hydrogen. Zat ini tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada amoniak ini sehingga jika msuk sedikit saja dalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.
• Naftalen (zat kapur barus)
• Hydrogen sianida /HCN(racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati)
Merupakan sejenis gas yang tidak berbau, berwarna dan tidak berasa, merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat eficien untuk menghalangi pernafasan dan merusak saluran pernafasan. Sianida adalah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja sianida dimasukkan langsung kedalam tubuh dapat mengakibatkan kematian.
• Aseton (penghapus cat kuku)
• Toluen (pelarut)
• Methanol (bahan bakar roket)
Adalah sejenis cairan ringan yang mudah menguap dan mudah terbakar. Meminum atau menghisap methanol mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian.
• Arsenik (racun semut)
• Butan (bahan bakar korek api)
• Kadmium (bahan aki mobil)
Kadmium adalah zat yang dapat meracuni jaringan tubuh terutama ginjal
• DDT (racun serangga)
• Vinil klorida (bahan plastic)
• Asam format
Merupakan sejenis cairan yang tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lumpuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang merasa seperti digigit semut
• Nitrous oxide
Merupakan sejenis gas yang tidak berwarna dan bila terhisap dapat mnyebabkan hilangnya pertimbangan dan menyebabkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah sejenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh dokter
• Formaldehid
Sejenis gas yang tidak berwarna dan berbau tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organism hidup.
• Fenol
Fenol adalah campuran dari Kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organic seperti kayu dan arang serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan karena fenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim
• Asetol
Asetol adalah hasil pemanasan aldehid dan mudah menguap dengan alcohol.
• Hydrogen Sulfida
Sejenis gas yang beracun dan gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oksidasi enzim(zat besi yang berisi pigmen)
• Piridin
Sejenis cairan yang tidak berwarna demgan bau tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alcohol sebagai pelarut dan pembunuh hama.
• Metil Klorida
Merupakan campuran dari zat-zat bervalensi 1 antara hydrogen dan karbon merupakan unsurnya yang utama. Zat ini adalah senyawa organic yang beracun. (http://teyhirafarm.wordpress.com)
Orang yang tidak merokok tetapi terpaksa menghirup asap rokok orang lain dinamakan perokok pasif. Perokok pasif terancam bahaya lebih besar dari pada sipenghisap rokok atau perokok aktif. Sebab tubuh perokok pasif tidak memiliki Antibodi zat racun rokok. Akibatnya racun dari asap rokok akan langsung terserap dalam tubuh. Berbeda dengan perokok aktif. Karena telah menghisap rokok selama bertahun-tahun, tubuh perokok aktif telah membentuk antibody yang dapat mengurangi penyerapan racun dalam tubuh.
Secara spesifik dampak zat-zat bebahaya dalam asap rokok bagi kesehatan pada perokok pasif antara lain :
A. Pengaruh asap rokok pada kesehatan reproduksi
Gangguan haid (early menopause)
Kehamilan diluar kandungan
Infertile/ mandul (karena nikotin menghambat proses pelepasan sel telur)
B. Pengaruh asap rokok pada wanita hamil
Keguguran
Asap rokok berpengaruh terhadap kadar vitamin C pada plasma darah yang menimbulkan jaringan ikat leher rahim akan hilang ketahanannya.
Wanita hamil yang merokok atau menjadi perokok pasif, meyalurkan zat-zat beracun dari asap rokok kepada janin yang dikandungnya melalui peredaran darah. Nikotin rokok menyebabkan denyut jantung janin bertambah cepat, karbon monoksida menyebabkan berkurangya oksigen yang diterima janin.
Bayi lahir premature
Karena nikotin dan tar kadar vitamin C yang menurun menganggu pembentukan kolagen akibatnya rahim kontraksi dan infeksi sehingga pertumbuhan janin terhambat.
Perdarahan
Kecacatan
Terjadi karena ibu hamil menghisap asap rokok, janin juga menghisap racun dan sangat berpengaruh pada gizi yang diasup bayi tersingkir karena cemaran asap rokok.
C. Pengaruh asap rokok pada bayi dan anak-anak
Lebih mudah lelah
Mendapat jangkitan paru-paru
Pertumbuhan paru-paru kanak-kanak terganggu
Mudah menjadi perokok apabila dewasa kelak
Masalah pada pernafasan
Leukemia
Kanker otak
Sindrom kematian
Anak-anak yang orangtuanya merokok menghadapi kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit dada, infeksi telinga, hidung dan tenggorokan. Dan mereka punya kemungkinan dua kali lipat untuk dirawat di rumah sakit pada tahun pertama kehidupan mereka.
Menurut jangka waktu, efek asap rokok dibedakan menjadi efek jangka pendek dan jangka panjang.
A Efek jangka pendek asap rokok pada perokok pasif
Denyut nadi dan tekanan darah meningkat
Peristaltic menurun sehingga nafsu makan menurun
Sirkulasi darah berkurang baik ke sel maupun jaringan/ organ
B Efek jangka panjang asap rokok pada perokok pasif
Gangguan saluran nafas (menganggu silia sehingga paru mudah terinfksi)
Asma (proses alergi berkepanjangan, masuknya asap rokok sebagai benda asing menimbulkan reaksi alergi)
Sistim pembuluh darah dan jantung
Alat reproduksi (berat bayi lahir rendah, komplikasi kehamilan, infertilitas, cacat janin, kematian janin mendadak, impotensi)
Penurunan imunitas seluler.
Densitas / ketebalan dan kekompakan tulang menurun sehingga terjadi osteoporosis/ pengeroposan tulang.
Kerusakan lensa mata.
1. Tar
Mengandungi sekurang-kurangnya 43 bahan kimia yang diketahui menjadi penyebab kanser (karsinogen). Bahan seperti benzopyrene yaitu sejenis policyclic aromatic hydrocarbon (PAH) telah lama disahkan sebagai agen yang memulakan proses kejadian kanser.
2. Nikotin
Nikotin bukan merupakan komponen karsinogenik. Hasil pembusukan panas dari nikotin seperti dibensakridin, dibensokan basol dan nitrosamine-lah yang bersifat karsinogenik. Nikotin merupakan salah satu jenis obat perangsang yang dapat merusak jantung dan sirkulasi darah, nikotin membuat pemakainya kecanduan. Selama beberapa tahun terakhir, para ilmuwan telah membuktikan bahwa zat-zat kimia yang dikandung asap rokok dapat mempengaruhi orang-orang tidak merokok di sekitarnya. Perokok pasif dapat meningkatkan risiko penyakit kanker paru-paru dan jantung koroner. Lebih dari itu menghisap asap rokok orang lain dapat memperburuk kondisi pengidap penyakit : Angina, Asma dan Alergi.
3. Karbon monoksida
Karbon monoksida (CO) adalah gas yang tidak memiliki bau. Unsure ini dihasilkan oleh pmbakaran yang tidak sempurna dari unsure zat arang. Gas CO yang dihasilkan sebatang rokok dapat mencapai 3-6%, gas ini dapat dihisap oleh siapa saja. Perokok aktif akan menghisap 1/3 bagian saja yaitu arus yang tengah (midstream) sedangkan arus pingir (side-stream) akan tetap berada diluar. anSesudah itu perokok tidak akan menelan semua asap tetapi ia menghembuskan lagi keluar.
Gas CO mempunyai kemampuan mengikat Hb yang terdapat dalam sel darah merah lebih kuat dibanding oksigen sehingga setiap ada asap rokok disamping kadar oksigen yang telah berkurang, ditambah el darah merah akan semakin kekurangan O2, oleh karena yang diangkut adalah CO bukan oksigen, sehingga sel kekurangan oksigen.
4. Zat-zat beracun lainnya adalah
• Amoniak (bahan pembersih lanai)
Merupakan gas yang tidak berwarna yang terdiri dari nitrogen dan hydrogen. Zat ini tajam baunya dan sangat merangsang. Begitu kerasnya racun yang ada pada amoniak ini sehingga jika msuk sedikit saja dalam peredaran darah akan mengakibatkan seseorang pingsan atau koma.
• Naftalen (zat kapur barus)
• Hydrogen sianida /HCN(racun yang digunakan untuk pelaksanaan hukuman mati)
Merupakan sejenis gas yang tidak berbau, berwarna dan tidak berasa, merupakan zat yang paling ringan, mudah terbakar dan sangat eficien untuk menghalangi pernafasan dan merusak saluran pernafasan. Sianida adalah satu zat yang mengandung racun yang sangat berbahaya. Sedikit saja sianida dimasukkan langsung kedalam tubuh dapat mengakibatkan kematian.
• Aseton (penghapus cat kuku)
• Toluen (pelarut)
• Methanol (bahan bakar roket)
Adalah sejenis cairan ringan yang mudah menguap dan mudah terbakar. Meminum atau menghisap methanol mengakibatkan kebutaan dan bahkan kematian.
• Arsenik (racun semut)
• Butan (bahan bakar korek api)
• Kadmium (bahan aki mobil)
Kadmium adalah zat yang dapat meracuni jaringan tubuh terutama ginjal
• DDT (racun serangga)
• Vinil klorida (bahan plastic)
• Asam format
Merupakan sejenis cairan yang tidak berwarna yang bergerak bebas dan dapat membuat lumpuh. Cairan ini sangat tajam dan menusuk baunya. Zat ini dapat menyebabkan seseorang merasa seperti digigit semut
• Nitrous oxide
Merupakan sejenis gas yang tidak berwarna dan bila terhisap dapat mnyebabkan hilangnya pertimbangan dan menyebabkan rasa sakit. Nitrous oxide ini adalah sejenis zat yang pada mulanya dapat digunakan sebagai pembius waktu melakukan operasi oleh dokter
• Formaldehid
Sejenis gas yang tidak berwarna dan berbau tajam. Gas ini tergolong sebagai pengawet dan pembasmi hama. Gas ini juga sangat beracun keras terhadap semua organism hidup.
• Fenol
Fenol adalah campuran dari Kristal yang dihasilkan dari distilasi beberapa zat organic seperti kayu dan arang serta diperoleh dari tar arang. Zat ini beracun dan membahayakan karena fenol ini terikat ke protein dan menghalangi aktivitas enzim
• Asetol
Asetol adalah hasil pemanasan aldehid dan mudah menguap dengan alcohol.
• Hydrogen Sulfida
Sejenis gas yang beracun dan gampang terbakar dengan bau yang keras. Zat ini menghalangi oksidasi enzim(zat besi yang berisi pigmen)
• Piridin
Sejenis cairan yang tidak berwarna demgan bau tajam. Zat ini dapat digunakan mengubah sifat alcohol sebagai pelarut dan pembunuh hama.
• Metil Klorida
Merupakan campuran dari zat-zat bervalensi 1 antara hydrogen dan karbon merupakan unsurnya yang utama. Zat ini adalah senyawa organic yang beracun. (http://teyhirafarm.wordpress.com)
Orang yang tidak merokok tetapi terpaksa menghirup asap rokok orang lain dinamakan perokok pasif. Perokok pasif terancam bahaya lebih besar dari pada sipenghisap rokok atau perokok aktif. Sebab tubuh perokok pasif tidak memiliki Antibodi zat racun rokok. Akibatnya racun dari asap rokok akan langsung terserap dalam tubuh. Berbeda dengan perokok aktif. Karena telah menghisap rokok selama bertahun-tahun, tubuh perokok aktif telah membentuk antibody yang dapat mengurangi penyerapan racun dalam tubuh.
Secara spesifik dampak zat-zat bebahaya dalam asap rokok bagi kesehatan pada perokok pasif antara lain :
A. Pengaruh asap rokok pada kesehatan reproduksi
Gangguan haid (early menopause)
Kehamilan diluar kandungan
Infertile/ mandul (karena nikotin menghambat proses pelepasan sel telur)
B. Pengaruh asap rokok pada wanita hamil
Keguguran
Asap rokok berpengaruh terhadap kadar vitamin C pada plasma darah yang menimbulkan jaringan ikat leher rahim akan hilang ketahanannya.
Wanita hamil yang merokok atau menjadi perokok pasif, meyalurkan zat-zat beracun dari asap rokok kepada janin yang dikandungnya melalui peredaran darah. Nikotin rokok menyebabkan denyut jantung janin bertambah cepat, karbon monoksida menyebabkan berkurangya oksigen yang diterima janin.
Bayi lahir premature
Karena nikotin dan tar kadar vitamin C yang menurun menganggu pembentukan kolagen akibatnya rahim kontraksi dan infeksi sehingga pertumbuhan janin terhambat.
Perdarahan
Kecacatan
Terjadi karena ibu hamil menghisap asap rokok, janin juga menghisap racun dan sangat berpengaruh pada gizi yang diasup bayi tersingkir karena cemaran asap rokok.
C. Pengaruh asap rokok pada bayi dan anak-anak
Lebih mudah lelah
Mendapat jangkitan paru-paru
Pertumbuhan paru-paru kanak-kanak terganggu
Mudah menjadi perokok apabila dewasa kelak
Masalah pada pernafasan
Leukemia
Kanker otak
Sindrom kematian
Anak-anak yang orangtuanya merokok menghadapi kemungkinan lebih besar untuk menderita sakit dada, infeksi telinga, hidung dan tenggorokan. Dan mereka punya kemungkinan dua kali lipat untuk dirawat di rumah sakit pada tahun pertama kehidupan mereka.
Menurut jangka waktu, efek asap rokok dibedakan menjadi efek jangka pendek dan jangka panjang.
A Efek jangka pendek asap rokok pada perokok pasif
Denyut nadi dan tekanan darah meningkat
Peristaltic menurun sehingga nafsu makan menurun
Sirkulasi darah berkurang baik ke sel maupun jaringan/ organ
B Efek jangka panjang asap rokok pada perokok pasif
Gangguan saluran nafas (menganggu silia sehingga paru mudah terinfksi)
Asma (proses alergi berkepanjangan, masuknya asap rokok sebagai benda asing menimbulkan reaksi alergi)
Sistim pembuluh darah dan jantung
Alat reproduksi (berat bayi lahir rendah, komplikasi kehamilan, infertilitas, cacat janin, kematian janin mendadak, impotensi)
Penurunan imunitas seluler.
Densitas / ketebalan dan kekompakan tulang menurun sehingga terjadi osteoporosis/ pengeroposan tulang.
Kerusakan lensa mata.
Langganan:
Postingan (Atom)