numpang nonggol ya bunda...

Minggu, 29 Agustus 2010

ASKEP DM

ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. P DENGAN GANGGUAN SISTEM ENDOKRIN: DIABETES MILITUS DENGAN GANGREN
DI PUSKESMAS KALIGESING KAB. PURWOREJO

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Perkuliahan KMB








Disusun Oleh :
Siti Halimah
NIM A2. 0900280






PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN
SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH
GOMBONG
2010

BAB I
TINJAUAN TEORI

A. PENGERTIAN
Diabetes mellitus merupakan sekelompok kelainan heterogen yang ditandai oleh kenaikan kadar glukosa dalam darah atau hiperglikemia. (Brunner dan Suddarth, 2002).
Diabetes Melllitus adalah suatu kumpulan gejala yang timbul pada seseorang yang disebabkan oleh karena adanya peningkatan kadar gula (glukosa) darah akibat kekurangan insulin baik absolut maupun relatif (Arjatmo, 2002).

B. KLASIFIKASI
Klasifikasi diabetes mellitus sebagai berikut :
1. Tipe I : Diabetes mellitus tergantung insulin (IDDM)
2. Tipe II : Diabetes mellitus tidak tergantung insulin (NIDDM)
3. Diabetes mellitus yang berhubungan dengan keadaan atau sindrom lainnya
4. Diabetes mellitus gestasional (GDM)

C. ETIOLOGI
1. Diabetes tipe I:
a. Faktor genetik
Penderita diabetes tidak mewarisi diabetes tipe I itu sendiri; tetapi mewarisi suatu predisposisi atau kecenderungan genetik ke arah terjadinya DM tipe I. Kecenderungan genetik ini ditemukan pada individu yang memiliki tipe antigen HLA.
b. Faktor-faktor imunologi
Adanya respons otoimun yang merupakan respons abnormal dimana antibodi terarah pada jaringan normal tubuh dengan cara bereaksi terhadap jaringan tersebut yang dianggapnya seolah-olah sebagai jaringan asing. Yaitu otoantibodi terhadap sel-sel pulau Langerhans dan insulin endogen.
c. Faktor lingkungan
Virus atau toksin tertentu dapat memicu proses otoimun yang menimbulkan destruksi selbeta.

2. Diabetes Tipe II
Mekanisme yang tepat yang menyebabkan resistensi insulin dan gangguan sekresi insulin pada diabetes tipe II masih belum diketahui. Faktor genetik memegang peranan dalam proses terjadinya resistensi insulin.
Faktor-faktor resiko :
a. Usia (resistensi insulin cenderung meningkat pada usia di atas 65 th)
b. Obesitas
c. Riwayat keluarga



























D. PATOFISIOLOGI/PATHWAYS

Defisiensi Insulin

glukagon↑ penurunan pemakaian
glukosa oleh sel

glukoneogenesis hiperglikemia

lemak protein glycosuria

ketogenesis BUN↑ Osmotic Diuresis

ketonemia Nitrogen urine ↑ Dehidrasi

↓ pH Hemokonsentrasi

Asidosis Trombosis

Aterosklerosis














E. TANDA DAN GEJALA
Keluhan umum pasien DM seperti poliuria, polidipsia, polifagia pada DM umumnya tidak ada. Sebaliknya yang sering mengganggu pasien adalah keluhan akibat komplikasi degeneratif kronik pada pembuluh darah dan saraf. Pada DM lansia terdapat perubahan patofisiologi akibat proses menua, sehingga gambaran klinisnya bervariasi dari kasus tanpa gejala sampai kasus dengan komplikasi yang luas. Keluhan yang sering muncul adalah adanya gangguan penglihatan karena katarak, rasa kesemutan pada tungkai serta kelemahan otot (neuropati perifer) dan luka pada tungkai yang sukar sembuh dengan pengobatan lazim.
Menurut Supartondo, gejala-gejala akibat DM pada usia lanjut yang sering ditemukan adalah :
1. Katarak
2. Glaukoma
3. Retinopati
4. Gatal seluruh badan
5. Pruritus Vulvae
6. Infeksi bakteri kulit
7. Infeksi jamur di kulit
8. Dermatopati
9. Neuropati perifer
10. Neuropati viseral
11. Amiotropi
12. Ulkus Neurotropik
13. Penyakit ginjal
14. Penyakit pembuluh darah perifer
15. Penyakit koroner
16. Penyakit pembuluh darah otak
17. Hipertensi
Osmotik diuresis akibat glukosuria tertunda disebabkan ambang ginjal yang tinggi, dan dapat muncul keluhan nokturia disertai gangguan tidur, atau bahkan inkontinensia urin. Perasaan haus pada pasien DM lansia kurang dirasakan, akibatnya mereka tidak bereaksi adekuat terhadap dehidrasi. Karena itu tidak terjadi polidipsia atau baru terjadi pada stadium lanjut.
Penyakit yang mula-mula ringan dan sedang saja yang biasa terdapat pada pasien DM usia lanjut dapat berubah tiba-tiba, apabila pasien mengalami infeksi akut. Defisiensi insulin yang tadinya bersifat relatif sekarang menjadi absolut dan timbul keadaan ketoasidosis dengan gejala khas hiperventilasi dan dehidrasi, kesadaran menurun dengan hiperglikemia, dehidrasi dan ketonemia. Gejala yang biasa terjadi pada hipoglikemia seperti rasa lapar, menguap dan berkeringat banyak umumnya tidak ada pada DM usia lanjut. Biasanya tampak bermanifestasi sebagai sakit kepala dan kebingungan mendadak.
Pada usia lanjut reaksi vegetatif dapat menghilang. Sedangkan gejala kebingungan dan koma yang merupakan gangguan metabolisme serebral tampak lebih jelas.

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Glukosa darah sewaktu
2. Kadar glukosa darah puasa
3. Tes toleransi glukosa
Kadar darah sewaktu dan puasa sebagai patokan penyaring diagnosis DM (mg/dl)
Bukan DM Belum pasti DM DM
Kadar glukosa darah sewaktu
- Plasma vena
- Darah kapiler
Kadar glukosa darah puasa
- Plasma vena
- Darah kapiler
< 100
<80

<110
<90
100-200
80-200

110-120
90-110
>200
>200

>126
>110
Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali pemeriksaan :
1. Glukosa plasma sewaktu >200 mg/dl (11,1 mmol/L)
2. Glukosa plasma puasa >140 mg/dl (7,8 mmol/L)
3. Glukosa plasma dari sampel yang diambil 2 jam kemudian sesudah mengkonsumsi 75 gr karbohidrat (2 jam post prandial (pp) > 200 mg/dl

G. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama terapi diabetes mellitus adalah mencoba menormalkan aktivitas insulin dan kadar glukosa darah dalam upaya untuk mengurangi komplikasi vaskuler serta neuropati. Tujuan terapeutik pada setiap tipe diabetes adalah mencapai kadar glukosa darah normal.
Ada 5 komponen dalam penatalaksanaan diabetes :
1. Diet
2. Latihan
3. Pemantauan
4. Terapi (jika diperlukan)
5. Pendidikan

H. PENGKAJIAN
 Riwayat Kesehatan Keluarga
Adakah keluarga yang menderita penyakit seperti klien ?
 Riwayat Kesehatan Pasien dan Pengobatan Sebelumnya
Berapa lama klien menderita DM, bagaimana penanganannya, mendapat terapi insulin jenis apa, bagaimana cara minum obatnya apakah teratur atau tidak, apa saja yang dilakukan klien untuk menanggulangi penyakitnya.
 Aktivitas/ Istirahat :
Letih, Lemah, Sulit Bergerak / berjalan, kram otot, tonus otot menurun.

 Sirkulasi
Adakah riwayat hipertensi,AMI, klaudikasi, kebas, kesemutan pada ekstremitas, ulkus pada kaki yang penyembuhannya lama, takikardi, perubahan tekanan darah
 Integritas Ego
Stress, ansietas
 Eliminasi
Perubahan pola berkemih ( poliuria, nokturia, anuria ), diare
 Makanan / Cairan
Anoreksia, mual muntah, tidak mengikuti diet, penurunan berat badan, haus, penggunaan diuretik.
 Neurosensori
Pusing, sakit kepala, kesemutan, kebas kelemahan pada otot, parestesia,gangguan penglihatan.
 Nyeri / Kenyamanan
Abdomen tegang, nyeri (sedang / berat)
 Pernapasan
Batuk dengan/tanpa sputum purulen (tergangung adanya infeksi / tidak)
 Keamanan
Kulit kering, gatal, ulkus kulit.

I. MASALAH KEPERAWATAN
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan
2. Kekurangan volume cairan
3. Gangguan integritas kulit
4. Resiko terjadi injury

J. INTERVENSI
1. Resiko tinggi gangguan nutrisi : kurang dari kebutuhan berhubungan dengan penurunan masukan oral, anoreksia, mual, peningkatan metabolisme protein, lemak.
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
 Pasien dapat mencerna jumlah kalori atau nutrien yang tepat
 Berat badan stabil atau penambahan ke arah rentang biasanya
Intervensi :
 Timbang berat badan setiap hari atau sesuai dengan indikasi.
 Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan makanan yang dapat dihabiskan pasien.
 Auskultasi bising usus, catat adanya nyeri abdomen / perut kembung, mual, muntahan makanan yang belum sempat dicerna, pertahankan keadaan puasa sesuai dengan indikasi.
 Berikan makanan cair yang mengandung zat makanan (nutrien) dan elektrolit dengan segera jika pasien sudah dapat mentoleransinya melalui oral.
 Libatkan keluarga pasien pada pencernaan makan ini sesuai dengan indikasi.
 Observasi tanda-tanda hipoglikemia seperti perubahan tingkat kesadaran, kulit lembab/dingin, denyut nadi cepat, lapar, peka rangsang, cemas, sakit kepala.
 Kolaborasi melakukan pemeriksaan gula darah.
 Kolaborasi pemberian pengobatan insulin.
 Kolaborasi dengan ahli diet.

2. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan diuresis osmotik.
Tujuan : kebutuhan cairan atau hidrasi pasien terpenuhi
Kriteria Hasil :
Pasien menunjukkan hidrasi yang adekuat dibuktikan oleh tanda vital stabil, nadi perifer dapat diraba, turgor kulit dan pengisian kapiler baik, haluaran urin tepat secara individu dan kadar elektrolit dalam batas normal.

Intervensi :
 Pantau tanda-tanda vital, catat adanya perubahan TD ortostatik
 Pantau pola nafas seperti adanya pernafasan kusmaul
 Kaji frekuensi dan kualitas pernafasan, penggunaan otot bantu nafas
 Kaji nadi perifer, pengisian kapiler, turgor kulit dan membran mukosa
 Pantau masukan dan pengeluaran
 Pertahankan untuk memberikan cairan paling sedikit 2500 ml/hari dalam batas yang dapat ditoleransi jantung
 Catat hal-hal seperti mual, muntah dan distensi lambung.
 Observasi adanya kelelahan yang meningkat, edema, peningkatan BB, nadi tidak teratur
 Kolaborasi : berikan terapi cairan normal salin dengan atau tanpa dextrosa, pantau pemeriksaan laboratorium (Ht, BUN, Na, K)

3. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status metabolik (neuropati perifer).
Tujuan : gangguan integritas kulit dapat berkurang atau menunjukkan penyembuhan.
Kriteria Hasil :
Kondisi luka menunjukkan adanya perbaikan jaringan dan tidak terinfeksi
Intervensi :
 Kaji luka, adanya epitelisasi, perubahan warna, edema, dan discharge, frekuensi ganti balut.
 Kaji tanda vital
 Kaji adanya nyeri
 Lakukan perawatan luka
 Kolaborasi pemberian insulin dan medikasi.
 Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.



4. Resiko terjadi injury berhubungan dengan penurunan fungsi penglihatan
Tujuan : pasien tidak mengalami injury
Kriteria Hasil : pasien dapat memenuhi kebutuhannya tanpa mengalami injury
Intervensi :
 Hindarkan lantai yang licin.
 Gunakan bed yang rendah.
 Orientasikan klien dengan ruangan.
 Bantu klien dalam melakukan aktivitas sehari-hari
 Bantu pasien dalam ambulasi atau perubahan posisi




DAFTAR PUSTAKA

Arjatmo Tjokronegoro. Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Cet 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, 2002

Doenges, Marilyn E, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3 alih bahasa I Made Kariasa, Ni Made Sumarwati, Jakarta : EGC, 1999.

Carpenito, Lynda Juall, Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 6 alih bahasa YasminAsih, Jakarta : EGC, 1997.

Ikram, Ainal, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam : Diabetes Mellitus Pada Usia Lanjut jilid I Edisi ketiga, Jakarta : FKUI, 1996.

Luecknote, Annette Geisler, Pengkajian Gerontologi alih bahasa Aniek Maryunani, Jakarta:EGC, 1997.

Smeltzer, Suzanne C, Brenda G bare, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2 alih bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih, Jakarta : EGC, 2002.

Wilkinson, Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta: EGC, 2007








BAB II
TINJAUAN KASUS

I. PENGKAJIAN
Hari : Selasa
Tanggal : 20 April 2010
Tempat : Bangsal Rawat Inap Puskesmas Kaligesing
Jam : 13.00 WIB
Metode : Anamnese, Observasi, Pemeriksaan Fisik, Studi Dokumentasi
Sumber : Pasien, Keluarga Pasien, Tim Kesehatan dan Status Pasien
Oleh : Siti halimah

A. Identitas pasien
Nama : Tn. P
Umur : 50 tahun
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : Kaliharjo, Kaligesing,Purworejo
Pekerjaan : Petani
Status : Menikah
Diagmosa : Diabetes Militus
No. RM : 04/IV/2010
Tgl. Masuk : 19 April 2010

B. Penanggung jawab
Nama : Ny. M
Umur : 45 tahun
Alamat : Kaliharjo, Kaligesing, Purworejo
Hubungan dengan pasien : Istri



C. Riwayat Kesehatan
1. Keluhan Utama
Pasien mengatakan merasa pusing dan nyeri pada ibu jari kaki kiri karena ada luka, dengan
P : nyeri bertambah saat digunakan untuk bergerak, saat diganti perban, nyeri berkurang saat istirahat
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : nyeri pada ibu jari kaki kiri
S : skala nyeri 6
T : nyeri hilang timbul

2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke puskesmas untuk berobat karena ibu jari kaki kiri luka dan tidak kunjung sembuh.
TTV: tensi 110/80 mmHg, suhu 360C, nadi 80 x/menit, RR 20x/menit. Dan pasien mengeluh pusing, pasien disarankan mondok dan mendapat therapy infuse RL 16 tpm, injeksi Ranitidine 2 x 1mg, Ceftriakson 1 x 2 mg, Cefotaxim 2 x 1 gr, Gentamisin 1 x 80 mg (IV).

3. Riwayat Dahulu
Pasien mengatakan belum pernah mengalami penyakit yang sama. Belum pernah mondok baik di puskesmas maupun rumah sakit.

4. Riwayat Penyakit Keluarga
Keluarga pasien belum pernah mondok karena penyakit tertentu, penyakit DM belum terdeteksi. Riwayat alergi obat atau makanan belum terdeteksi.



5. Genogram







: laki-laki
: perempuan
: pasien
: menikah
: keturunan
: tinggal satu rumah
D. Pola Fungsional
1. Kebutuhan Bernafas dengan Normal
Sebelum sakit: pasien tidak mengalami kesulitan bernafas RR.
Saat dikaji: pasien tidak mengalami kesulitan bernafas, RR normal 20x/menit
2. Kebutuhan Nutrisi
Keluarga dan klien makan 3 x sehari dengan komposisi nasi, sayur, lauk dan kadang kala buah-buahan.
3. Kebutuhan Eliminasi
Pasien BAB 1 x sehari, konsistensi lunak, BAK 7-10 kali sehari
4. Kebutuhan Gerak Dan Kesetimbangan Tubuh
Pasien dalam melakukan aktivitas perawatan diri selama sakit dibantu oleh keluarga
5. Kebutuhan Istirahat dan Tidur
Pasien mengatakan bisa tidur 5-8 jam tiap malam.
6. Kebutuhan Berpakaian
Dalam berganti pakaian pasien bisa melakukan sendiri
7. Kebutuhan Mempertahankan Suhu Tubuh dan Temperature
Pasien tidak mengalami kenaikan suhu tubuh: 360C (normal), selama sakit pasien bisa mengenakan pakaian walaupun dengan bantuan, bisa menggunakan selimut sendiri saat tidur.
8. Kebutuhan Personal Hygine
Selama sakit pasien mandi di tempat tidur dengan bantuan istri, mandi dengan air hangat 2 x sehari, gosok gigi 2x sehari saat mandi.
9. Kebutuhan Rasa Aman dan Nyaman
Pasien merasa kurang nyaman karena terpasang infus, namun pasien merasa aman karena selalu ditemani keluarga dan perawat jaga selalu siap siaga 24 jam.
10. Kebutuhan Komunikasi dengan Orang Lain
Pasien dapat berkomunikasi dengan baik, baik berkomunikasi dengan keluarga, perawat atau pasien lain.
11. Kebutuhan Spiritual
Sebelum sakit pasien taat melaksanakan sholat fardhu 5 waktu, selama sakit pasien sholat di tepat tidur.
12. Kebutuhan Bekerja
Sebelum sakit pasien bekerja sebagai petani cengkeh. Selama sakit pasien tidak dapat pergi memanen cengkeh.
13. Kebutuhan Rekreasi
Sebelum sakit pasien tidak pernah berekreasi, hanya kadang kala berlibur/ berkunjung ke rumah saudara
14. Kebutuhan Belajar
Selama sakit pasien terus bertanya kapan boleh pulang, bagaimana nanti perawatan lukanya selama dirumah.

E. Keadaan umum
• Suhu : 360C
• Nadi : 80 x/menit
• TD : 110/80 mmHg
• RR : 20x/menit
• BB : 55 Kg
• TB : 165 cm
F. Pemeriksaan fisik
KU : baik,
Kesadaran : composmentis
Kepala : simetris tegak lurus dengan garis tengah tubuh, tidak ada luka, kulit kepala bersih, rambut beruban dan bentuk lurus.
Mata : sclera tidak ikterik, konjungtiva tidak anemis, pupil isokor kanan dan kiri, reflek cahaya (+),penglihatan jelas
Mulut : bibir tidak kering, tidak sianosis, reflek menelan baik, tonsil tidak membesar, caries gigi tidak ada
Telinga : fungsi pendengaran baik, tidak ada serumen, tidak ada pembesaran massa
Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, tidak ada peningkatan JVP
Dada
Inspeksi : bentuk dada normochest, simetris, ictus cordis tidak tampak, gerakan dada simetris, tidak ada ketertingalan gerak, frekuensi pernafasan 20 x /mnt,
Palpasi : tidak terasa massa, tidak ada nyeri tekan
Perkusi : jantung dan paru-paru berbatas tegas.
Auskultasi : suara nafas bersih, vesikuler, tidak ada suara tambahan seperti ronchi maupun wheezing, suara paru-paru sonor, suara jantung S1 dan S2 murni.
Abdomen
Inspeksi : bentuk datar simetris, tidak ada pembengkakan atau acites. Tidak ditemukan adanya kelainan seperti benjolan atau pembesaran pada perut, tidak ada hiperpigmentasi
Auskultasi : frekuensi suara peristaltic usus 4 x /menit
Perkusi : tidak ada penumpukan cairan atau udara, suara tympani
Palpasi : tidak ada nyeri tekan, tidak ada pembengkakan atau massa pada abdomen, hepar tidak teraba
Ekstremitas :
Anggota gerak atas : lengkap, tidak terdapat luka, tidak ada krepitasi, dapat digerakkan, terpasang infuse RL pada tangan kanan
Anggota gerak bawah : lengkap, terdapat luka pada ibu jari kaki kiri, luka tertutup perban, keadaan luka bersih, dapat digerakkan.




G. Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan laboratorium
Kimia Klinik Hasil Nilai Normal Satuan
Tanggal 19
Gula Darah Sewaktu
445
100-130
mm/L

H. Therapi
Parenteral
Cefriaxon 1 x 2 mg
Cefotaxim 2 x 1 gr
Gentamisin 1 x 80 mg
Ranitidin 2 x 1 mg
Oral
Metronodazol 3 x 500mg
Infuse
RL 16 tetes/menit

II. ANALISA DATA
No Hari/Tgl/Jam Data Masalah Etiologi
1 Senin
19 April 2010 DS : pasien mengatakan nyeri pada ibu jari kaki kiri, berkurang bila istirahat, bertambah bila untuk aktivitas dan saat diganti perban, nyeri seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri 6
DO : pasien kelihatan meringis, mengeluh nyeri, S : 360C, TD 110 / 80 mmHg, N : 80 x/mnt, RR : 20x/mnt Nyeri Terputusnya kontinuitas jaringan
2 DS : -
DO : luka tertutup perban, keadaan luka bersih, tidak terdapat rubor, tumor, dolor, kalor, fungtio lessi, TD 110/80mmHg, S 360C, N 80x/mnt, RR 20x/mnt Resiko infeksi Masuknya mikro organism sekunder terhadap luka
3 DS : pasien mengaatakan tidak tahu cara perawatan luka dirumah
DO : pasien terlihat bertanya kepada perawat saat diganti perban Kurang pengetahuan tentang perawatan luka dirumah Kurang informasi

III. RUMUSAN DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Nyeri berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan
2. Resiko infeksi berhubungan dengan masuknya mikroorganisme sekunder terhadap luka.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi tentang perawatan luka dirumah.
IV. INTERVENSI KEPERAWATAN
No Dx Tujuan Intervensi
1 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan nyeri berkurang dengan criteria hasil:
• Skala nyeri dari 7 menjadi 3
• Pasien tampak rileks
• Pasien bisa beristirahat dengan tenang • Kaji karakteristik nyeri
• Berikan posisi yang nyaman
• Ciptakan lingkungan yang nyaman
• Ajarkan tehnik relaksasi
• Berikan analgesic sesuai advis dokter
2 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan infeksi tidak terjadi dengan criteria haasil :
• Tidak terdapat tanda-tanda infeksi (rubor, tumor, dolor, kalor, fungsio lessi)
• Suhu 360C-370C
• Lekosit dalam batas normal (4.000-10.000 mm3) • Kaji tanda-tanda vital
• Kaji adanya tanda-tanda infeksi
• Gunakan tehnik septic dan antiseptic
• Lakukan medikasi secara rutin
• Berikan cefotaxim 1 gr/ 12 jam via i.v
3 Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam diharapkan masalah bisa teratasi dengan criteria hasil:
• Pasien dapat melaksanakan perawatan luka
Keluarga memahami penjelasan yang diberikan
• Kaji pengetahuan pasien
• Jelaskan cara perawatan luka dirumah
• Berikan keempatan pasien dan keluarga untuk bertanya




V. IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
No Dx Tangggal/ jam Implementasi Evaluasi
1 19 April 2010
Jam 09.00 wib s/d 12.00 wib • Mengaji karakteristik nyeri
• Memberikan posisi yang nyaman
• Mengatur posisi pasien senyaman mungkin
• Mengajarkan tehnik relaksasi dengan nafas dalam
• Memberikan obat oral asam mefenamat 500mg
• Memberikan diet kepada pasien
• Memonitor TTV TD 120/80 mmHg, S 360C, RR 20x/mnt, N 80x/mnt
S : pasien mengatakan skala nyeri 4
O: pasien masih tampak menahan nyeri
A: masalah teratasi sebagian
P: lanjutkan intervensi
2 19 April 2010
Jam 09.00 wib s/d 12.00 wib • Mengkaji tanda-tanda vital
• Mengkaji adanya tanda-tanda infeksi
• Memedikasi pasien menggunakan tehnik septic dan aseptic
• Memberikan cefotaxim 1 gr/ 12 jam via i.v S : pasien mengatakan nyeri
O: luka bersih tidak ada rubor, tumor, kalor, dolor, fungsio lesi
A: masalah teratasi sementara
P: intervensi dilanjutkan
3 19 April 2010
Jam 09.00 wib s/d 12.00 wib • Merapikan tempat tidur pasien
• Menganti baju pasien
• Mengkaji pengetahuan pasien
• Melakukan penkes tentang perawatan luka
• Menjelaskan cara perawatan luka dirumah
• Memberikan keempatan pasien dan keluarga untuk bertanya
S : pasien mengatakan sudah mengerti cara perawatan luka dirumah
O: pasien bisa menjawab kembali apa yang dijelaskan perawat
A: masalah teratasi
P: intervensi dihentikan sementara


Praktikan


Siti Halimah
Siti Halimah
Mengetahui
Pembimbing Akademik Pembimbing lahan


…………………………….. Eni Purwaningsih,S.Kep

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar